May 18, 2022

Rayakan Hari Perempuan Nasional  Ikatan  Alumni  UIN  Syarif Hidayatullah Gunakan Penutup Kepala Ciri Indonesia

Rayakan Hari Perempuan Nasional  Ikatan  Alumni  UIN  Syarif Hidayatullah Gunakan Penutup Kepala Ciri Indonesia

Rayakan Hari Perempuan Nasional  Ikatan  Alumni  UIN  Syarif Hidayatullah Gunakan Penutup Kepala Ciri Indonesia

Setiap tanggal delapan Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional  atau  International  Women  Day  (IWD).  Momen  ini  didedikasikan  secara  global untuk  merayakan  pencapaian  sosial,  ekonomi,  dan  politik  perempuan. 

Departemen  Pemberdayaan  Perempuan  dan  Kesetaraan  Gender  Ikatan  Alumni  UIN  Syarif Hidayatullah  (IKALUIN)  Jakarta dan  Jaringan Aktivis Perempuan memperingati Hari  Perempuan Internasional dengan berkain atau memakai wastra  dilengkapi tudung kepala yang berasal dari  penjuru nusantara. 

Tujuannya adalah  para perempuan di belahan dunia ikut melestarikan kain-kain  tradisi dibuat oleh tangan-tangan perempuan, yang prosesnya menggunakan bahan-bahan  dari alam.   

Ada  banyak  pesan  dan  simbol  yang  bisa  dipelajari  dari  setiap  lembar  kain  yang  dibuat  para leluhur.  Bagaimana mereka  ingin  dunia  saling menghormati,  saling menjaga  dan  hidup  lestari satu  sama  lain  baik  sesama  manusia  maupun  dengan  hewan  atau  tumbuhan. 

 “Seperti  pada motif  sarung  pahikung  dari  pulau  Sumba NTT,  ada  motif  mamuli yang  berbentuk  sepertikNelamin  perempuan,  dimaknai  sebagai  simbol  kesuburan  dari  kelahiran  manusia,”  ujar Praktisi Wastra Nusantara, Nury Sybli yang juga penggagas acara “Aktivis Perempuan Berkain”, pada Minggu.

Melalui kegiatan berkain ini, Nury menjelaskan, agar para perempuan lebih mengenali tentang kain-kain  tradisi  seperti  tenun  ikat,  songket,  pahikung,  batik,  sulam,  dan  keragaman  tutup

kepala atau tudung yang diwariskan leluhur.  

“Dari penelusuran saya selama bertahun-tahun ke beberapa  Propinsi,  hampir  semua  daerah  memiliki  model  tutup  kepala  dengan  makna  dan

filosofi  yang indah. Perempuan memakai tudung untuk bekerja kebun, membantu masyarakat, atau pergi ke pernikahan.  Jadi tutup  kepala sebagai bentuk kesahajaan selain juga kedaulatan, “papar Nury.

“Karena  perempuan adalah garda terdepan penjaga tradisi, akar dari peradaban,” imbuh Nury. 

Dalam  kebudayaan  masyarakat  Indonesia,  penutup  kepala memiliki  ragam  bentuk  dan  nama serta  cara  pemakainnya.  

Seperti kerudung,  kudung,  tudung,  tengkuluk,  kuluk,  tingkuluak,  saong,

bulang, passapu, tukus, pote, pa’lullung, tatupung dan  jong,  adalah  nama-nama penutup kepala  khas Indonesia .

Sejarah  mencatat, tengkuluk atau  Kuluk  di  Jambi  sudah  ada  sejak  abad

ketujuh atau  sejak  kerajaan  Melayu.  Dalam  budaya  Minangkabau,  penutup  kepala  disebut ‘tikuluak’  atau  ‘tingkuluak’  dengan  beragam  bentuk  dan  gaya  penggunaan  sesuai  daerahnya.

Bukan hanya sebagai busana, di ranah Minang ada makna kuasa perempuan yang disampaikan secara  simbolis  dari penutup kepala mereka.

Selain  warna-warna  yang  beragam,  pada  penutup kepala  juga  bisa  belajar  tentang  keberlanjutan kehidupan  di  masa  depan,  komitmen  merawat  alam,  ketekunan  dan  keteladanan.  

Dari sejarahnya, tenun  dibuat  dari  benang  kapas,  pewarnaan dari bahan-bahan alam  seperti  kulit akar mengkudu, serbuk  kayu  nangka, daun  nila,  kulit  kelapa,  daun mangga, kunyit,  cabe, dan banyak lagi tanaman yang memberikan warna yang indah pada setiap lembar kain.

Pada perayaan IWD2022 yang diselenggarakan oleh IKALUIN Jakarta ini, para aktivis perempuan menggunakan aneka ragam busana daerah dengan tutup kepala nusantara seperti nama-nama

tersebut diatas, kuluk, saong,  dan lain-lain. Sedang kain  yang digunakan berasal dari Sumba, Bima, Flores, Maluku, Nias,  Karo,  Toraja,  Jawa,  Jambi,  Belitung,  hingga  Papua.  

“Kain-kain  ini menjadi  ruang perjumpaan keragaman. Ini refleksi sesungguhnya Indonesia.  Bukan hanya kain  yang berwarna, tetapi  kami  yang  hadir  pada  Hari  Perempuan  Internasional  ini  juga  ada  sahabat-sahabat  dari lintas agama, lintas komunitas,  lintas profesi. Tampilan kita hari ini adalah bentuk wajah Islam

yang inklusif, yang mampu menghormati keragaman dan kekayaan tradisi,” papar Ketua Komnas Perempuan periode 2010-2014 , Yuniyanti  Chuzaifah di kesempatan yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.